Di pembukaan pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 lalu, Toyota menampilkan belasan unit kendaraan berteknologi hybrid.

Tak kurang dari 5 unit Toyota C-HR Hybrid, 4 unit Alphard HV, 1 unit Camry HV, 2 unit Prius, dan 1 unit Prius PHV jadi tontonan bermutu bagi pengunjung yang ingin tahu lebih jauh lagi terkait mobil berteknologi hybrid.

Dari hasil pameran selama 11 hari tersebut (25 April – 5 Mei 2019) Toyota berhasil mengantongi 5 unit Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk C-HR Hybrid yang baru diluncurkan di Indonesia.

“Di minggu pertama bulan Mei ini kita dapat 9 unit SPK untuk C-HR Hybrid. Agak unik juga sebenarnya, karena kalau dulu C-HR Gasoline cuma sendirian, sekarang begitu berdua dengan hybrid, keduanya sama-sama terjual 9 unit,” sebut Anton Jimmi Suwandi, Direktur Pemasaran PT TAM di acara Buka Puasa Toyota Indonesia, Kamis (9/5/2019).

“Jadi saya melihat begitu konsumen kita tawarkan yang hybrid mereka langsung beralih. Sekarang kita lihat tingkat lakunya jadi fifty-fifty,” tambah Anton Jimmi.

Meski masih terbilang kecil, menurutnya ini sudah cukup menunjukkan respon yang sangat baik dari konsumen. Apalagi niat memasukkan C-HR Hybrid ke Indonesia untuk saat ini masih sebatas edukasi konsumen.

Harga C-HR Hybrid Dibuat Kompetitif

Rio Haryanto jadi pembeli pertama Toyota C-HR Hybrid.

Toyota C-HR Hybrid dijual dengan harga Rp 523 juta. Selisih Rp 30 juta lebih mahal dibanding harga versi C-HR gasoline. Tentu ini terbilang sangat kompetitif.

Karena pada dasarnya harga mobil berteknologi hybrid bisa punya selisih hingga lebih dari Rp 100 juta dibanding harga mobil konvensional.

“Banyak anggapan kalau mobil hybrid mahal. Jujur memang mahal, dari sananya memang sudah mahal. Apalagi sebenarnya mobil hybrid saat ini kan segmennya masih niche, bukan jadi produk untuk mengejar volume. Nah, makanya kita coba untuk buat harganya beda tipis. Kalau harga mobil hybrid kita buat selisih tipis dengan mobil konvensional, konsumen pasti pilih hybrid. Ini merupakan pembuktian saja,” jelas Anton Jimmi.

“Harga hybrid selama ini kan selalu jauh diatas. Jadi sulit buat kita ngomong kalau nggak laku itu karena alasan harga kemahalan atau karena banyak yang belum siap dengan teknologinya?” beber Anton Jimmi.

Dengan strategi harga yang dilakukan TAM terhadap C-HR Hybrid ini, membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya sudah sangat siap dengan kendaraan teknologi tertinggi sekalipun. Dengan catatan harga jualnya harus kompetitif dengan mobil konvensional.

Harapannya bahwa Indonesia bisa mengikuti jejak Eropa yang saat ini sudah lebih mengedepankan kendaraan hybrid dibanding kendaraan bermesin diesel.

“Ini pernah terjadi di Eropa pada 10 tahun lalu. Saat itu teknologi diesel dan injeksi sangat populer disana. Lalu kemudian datang mobil hybrid. Toyota yang juga bermain di segmen tersebut meraih sukses luar biasa disana. Strateginya sama dengan yang dilakukan di Indonesia saat ini, harganya (mobil hybrid) dibuat sama dengan harga mobil diesel terkini saat itu.”

Kenyataannya sekarang di pasar Eropa mobil hybrid yang lebih banyak terjual dibanding mobil diesel. Experience tersebutlah yang diharapkan Anton Jimmi akan terjadi di Indonesia meski butuh waktu dua sampai tiga tahun. (Z)

Subscribe to OLX BLOG

Masukkan email Anda untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru di OLX Blog

×