Fenomena ojek online atau ojol sejauh ini mendapat tanggapan positif dari lapisan masyarakat. Kehadiran armada ojol dirasakan sangat membantu mobilitas masyarakat.

Bukan hanya saja mereka yang nggak punya kendaraan, bahkan pemilik kendaraan pribadi merasa sangat terbantukan dengan adanya layanan ojek berbasis online.

Alasan paling banyak bisa ditemui saat ditanya mengapa orang lebih suka pakai ojol dibanding nyetir sendiri, nggak lain dan nggak bukan karena lebih murah dan praktis.

Tinggal pesan, tunggu sebentar, lalu dijemput di depan pintu dan diantar sampai tujuan. Pokoknya, ojol sangat membantu banyak orang di Indonesia.

Terus gimana nih OLXer kalau ada rencana Pemerintah untuk naikin tarif ojol? Pada setuju nggak kira-kira?

Dijamin sih sebagai pengguna layanan ojol pasti semua teriak nggak mau.

Menaikkan Tarif Ojol Berdampak Negatif

Tarif Ojol
Pemerintah berencana menaikkan tarif ojek online, hal ini berpotensi menurunkan minat pengguna jasa ojol hingga 71,12% dari hasil survei RISED (twitter)

Nah, terkait ini ada sebuah survei yang melibatkan hingga 2.001 orang konsumen yang setiap harinya pakai ojol di 10 kota besar Indonesia.

Hasil survei yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menyebutkan, bila tarif ojol benar-benar dinaikin bakal lebih kelihatan dampak negatifnya dibanding positif.

“Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen,” kata Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara, Ph.D di Jakarta Pusat, Senin (11/2).

Dari survei juga disebutkan kalau 45,83 persen responden menyatakan tarif ojol yang ada saat ini sudah sesuai. Sementara 28 persen bilang sudah mahal dan sangat mahal.

Kalau dihitung rata-rata jarak perjalanan pengguna jasa ojol setiap harinya mencapai 8,8 km/hari. Kalau ada kenaikan tarif dari yang sekarang Rp 2.200/km menjadi Rp 3.100/km, maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp 7.920/hari. 

Ini artinya konsumen ojol bakal ngeluarin biaya tambahan Rp 7.920/hari. Sementara hanya 48,13 persen responden yang mau keluarin biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Sisanya sebanyak 23 persen responden nggak mau mengeluarkan biaya tambahan sepeser pun.

“Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan yang hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Total persentasenya mencapai 71,12%,” ujar Rumayya. 

Mantan Ketua YLKI & Mantan Komisioner Komnas HAM Zumrotin K. Susilo dan Ekonom Universitas Indonesia Dr. Fithra Faisal yang juga hadir menjadi narasumber menanggapi hasil survei tersebut.

Menurut Zumrotin, tarif selalu menjadi pertimbangan penting konsumen dalam menggunakan layanan atau produk. “Persentase ini menunjukkan layanan ojol amat sensitif dengan harga yang ditawarkan,” kata Zumrotin. 

Sehingga menurutnya harus hati-hati dalam urusan menentukan tarif ojol. “Seluruh pemangku kepentingan harus diperhitungkan dalam proses perumusan regulasi, karena konsumen yang akan terdampak secara signifikan,” ujarnya.

Karena memang fakta membuktikan bahwa ojol sudah menjadi kebutuhan masyarakat dalam bermobilitas jarak pendek. Fakta lainnya, 8,85 persen responden tidak pernah lagi pakai kendaraan pribadi setelah adanya ojol.

“Jika tarif ojol naik drastis, ada kemungkinan konsumen akan kembali beralih ke kendaraan pribadi, sehingga frekuensi penggunaan kendaraan pribadi dijalanan akan semakin tinggi,” kata Zumrotin.

“Risiko regulasi yang terlalu membatasi dan tarif yang tinggi akan mengakibatkan konsumen beralih, pendapatan pengemudi hilang, hingga kemudian menjadi beban Pemerintah juga pada akhirnya,” tutup Dr. Fithra Faisal. (Z)

Subscribe to OLX BLOG

Masukkan email Anda untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru di OLX Blog

×