News from OLX

Penggunaan GPS Pada Handphone Menurut Road Safety Association

0 Komentar

Penggunaan Global Positioning System (GPS) pada telepon seluler sangat dilarang. Bahkan Rabu (30/1/2019), MK menolak gugatan terhadap Pasal 106 (1) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terkait dengan penggunaan GPS pada handphone.

Penggunaan GPS pada smartphone ini juga menjadi polemik hingga saat ini. Hal ini tak lain karena adanya pernyataan yang berbeda-beda dalam larangan menggunakan GPS pada handphone.

Adanya polemik penggunaan GPS pada handphone ini ternyata mendapatkan tanggapan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Road Safety Association (RSA). Menurut RSA ada yang perlu dipahami dalam berkendara.

Menurut RSA, sebagai LSM Keselamatan Berkendara memiliki pendirian yang jelas terhadap aturan yang berlaku, yaitu mematuhinya, kemudian RSA memiliki konsep keselamatan berkendara yang sederhana, yaitu segitiga RSA (Rules, Skills, and Attitude) yang mencakup patuh terhadap aturan, mengenali ketrampilan berkendara, dan memiliki etika dalam berkendara, yang wajib dipahami secara komprehensif.

“Menurut kami, keputusan MK sudah sesuai dengan koridornya, karena sudah jelas dalam penjelasan UU Nomor 106 (1), dan MK pasti akan mengkaji dari sisi aturan yang berlaku, dimana payung hukumnya jelas, dan telah disahkan oleh pemerintah, hanya saja, sebagai pihak yang memiliki konsep segitiga RSA, kami rasa pendekatan dari hal GPS pada handphone ini harus diperbaharui,” tulis RSA dalam keterangan tertulis, Senin (4/2/2019).

RSA berpendapat, penggunaan GPS pada handphone, sebuah fenomena arus teknologi yang tidak dapat dibendung. Sebaliknya, ketika MK mengeluarkan keputusan, terjadi rasa tidak berimbang di masyarakat.

“Dari hal tersebut, kami seringkali meminta kepada para pemangku kebijakan untuk dapat berdiskusi santai mencari solusi di tengah maraknya masalah ini,” jelasnya.

Sementara itu RSA beranggapan, ada baiknya pengemudi memiliki ketrampilan dalam berkendara, mencakup mengenai bagaimana mengenal dan memahami fungsi instrumen dalam kendaraan yang memiliki fungsi hampir sama dengan GPS, contohnya spion.

Artinya, GPS dapat diperlakukan sebagai spion, yang hanya dilirik, bukan dilihat. Sebaliknya, mengoperasikan handphone saat mengemudi justru dilarang.

“Contohnya, melakukan perubahan rute, menggunakan fitur lain di aplikasi GPS, atau bahkan melakukan penggunaan aplikasi lain di handphone tersebut,” terangnya.

Mengenai Pasal 106 ayat 1

Adapun bunyi UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ Pasal 106 ayat 1 berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”

Kelanjut dari ketentuan Pasal 106 ayat (1) dijelaskan sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan ‘penuh konsentrasi’ adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan, sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.”

Karena itu, jika melanggar pasal tersebut, maka dapat dikenakan Pasal 283, yang berbunyi :

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan ‘melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan’ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750 ratus ribu.” (Her)

Subscribe to OLX BLOG

Masukkan email Anda untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru di OLX Blog

×